Senin, 10 Oktober 2011

BAB 5 MENGGUNAKAN SECARA LISAN KALIMAT TANYA/PERTANYAAN DALAM KONTEKS BEKERJA

BAB 5
MENGGUNAKAN SECARA LISAN KALIMAT
TANYA/PERTANYAAN DALAM KONTEKS BEKERJA
Wacana
Pertumbuhan Kami Paling Tinggi
Pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat.
Melihat kenyataan itu, Pemkab Sragen berupaya memacu pergerakan sektorsektor
ekonomi. Mengupas strategi yang dijalankan Pemkab Sragen, berikut
petikan wawancara SINDO dengan Bupati Sragen, Untung Wiyono.
Bagaimana visi Anda dalam membangun Sragen?
Kami berkeinginan menjadikan Sragen sebagai kabupaten cerdas
yang dilandasi kemandirian, kemajuan, dan penegakan supremasi hukum.
Didukung SDM berkualitas yang bertumpu pada ilmu pengetahuan
dan teknologi, hasil pertanian, industri, pariwisata, perdagangan/jasa,
kesehatan, wawasan lingkungan, dalam rangka mewujudkan keadilan dan
kesejahteraan lahir batin.
Apa program-program Pemkab untuk mengentaskan kemiskinan?
Pemkab membuat program dan kegiatan yang secara langsung maupun
tidak langsung dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus
dapat mengurangi jumlah pengangguran. Kebijakan ini diarahkan agar
dapat mengurangi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Untuk
itu, program dan kegiatan harus diarahkan pada kebutuhan mendasar bagi
masyarakat miskin.
Bagaimana efektivitas program-program tersebut?
Sangat efektif, terbukti pertumbuhan ekonomi terus mengalami
peningkatan. Tercatat, pada kuartal pertama 2007, pertumbuhan ekonomi
Sragen mencapai 6,8%. Angka ini paling tinggi di wilayah Karesidenan
Surakarta. Angka kemiskinan secara riil juga terus mengalami penurunan
setiap tahunnya.
Apa kendala yang dihadapi dalam menjalankan program-program itu?
Kendala awal adalah data yang kurang akurat. Selain itu, infrastruktur
yang sebelumnya belum memadai.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 93
Apa rencana Anda selanjutnya terkait program pengentasan kemiskinan?
Desentralisasi desa dan kecamatan yang berorientasi pada pelayanan
masyarakat, serta menempatkan tiga PNS di tiap-tiap desa. Satu PNS
adalah Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang tugasnya mengarahkan
petani di desa untuk membangun ekosistem pertanian, peternakan, dan
perikanan yang ideal. Dua PNS lainnya fokus pada program pemberdayaan
masyarakat desa.
Anda puas dengan hasil yang telah diperoleh?
Yang jelas, kemajuan harus terus ditingkatkan untuk mewujudkan
masyarakat Sragen yang sejahtera.
Apa program terobosan yang akan dilakukan pada masa mendatang?
Salah satunya membuat program pendataan tanah. Program ini berbasis
desa. Dengan berbasis desa, Pemkab berharap proses sertifikasi tanah
di Sragen bisa dilakukan secara serempak.
Kemudian, kami akan terus menjalankan program one-stop service.
Namun, keberadaan pelayanan terpadu satu pintu hanyalah salah satu
sarana untuk meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat. Ke depan tetap
diperlukan berbagai inovasi lain. Manajemen pemerintahan harus inovatif,
tidak boleh berhenti.
(Sumber: Berita Kota Minggu, 6 Januari 2008)
A. Pengertian dan Fungsi Kalimat Tanya
Kalimat tanya adalah kalimat yang disampaikan dengan maksud
mendapat jawaban berupa informasi, penjelasan, atau pernyataan. Jawaban
atas kalimat tanya dapat berbentuk jawaban pendek atau panjang.
Kalimat tanya berfungsi untuk meminta jawaban berupa penjelasan,
untuk menggali informasi, untuk klarifikasi, atau konfirmasi. Kalimat
tanya juga digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu yang disebut kalimat
tanya tersamar. Selain itu, ada juga kalimat tanya yang diajukan tanpa
memerlukan jawaban yang disebut kalimat tanya retoris. Pada pelajaran
ini, macam-macam kalimat tanya seperti itu akan kita pelajari kembali.
Perhatikan contoh keragaman kalimat tanya berikut.
94 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
1. Apakah Anda bersedia ditugaskan di sini? (konfirmasi)
2. Dari semua barang yang ditawarkan ini, mana yang Anda pilih?
(pilihan)
3. Di manakah alamat Anda? (menggali informasi tentang tempat)
4. Apakah kita tidak malu menjadi bangsa yang terkenal karena korupsinya?
(retorik)
5. Siapa yang tidak hadir hari ini? (menanyakan orang)
6. Bagaimana perasaannya, hanyalah Tuhan yang tahu. (retorik)
7. Diakah orang yang kemarin mencarimu? (klarifikasi)
8. Sudahkah Anda terima kiriman saya kemarin? (konfirmasi)
9. Dapatkah Anda menyelesaikan tugas ini dengan cepat? (menyuruh)
10. Siapakah yang tidak ingin sukses? (retorik)
B. Jenis Kalimat Tanya
Dilihat dari pemakaian secara lisan maupun kalimat, kalimat tanya
dapat dibedakan menjadi kalimat tanya biasa, tanya retoris, kalimat tanya
bertujuan untuk klarifikasi atau konfirmasi, dan kalimat tanya tersamar.
1. Kalimat Tanya Biasa
Salah satu ciri kalimat tanya ialah menggunakan kata tanya. Kata tanya
biasanya digunakan untuk pertanyaan yang bertujuan meminta penjelasan
atau menggali informasi. Di bawah ini adalah tabel yang berisi macammacam
kata tanya dan tujuan penggunaannya berikut jawaban yang
diinginkan oleh penanya. Perhatikan dengan saksama.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 95
apa (-kah) ? suatu benda/binatang ya/tidak/bukan
bagaimana (-kah) ? cara/proses menjelaskan cara/proses kerja sesuatu
berapa (-kah) ? jumlah menjelaskan jumlah tertentu (yang pasti)
bilamana (-kah) ? waktu menjelaskan waktu/kurun waktu tertentu
dari mana (-kah) ? arah/asal menjelaskan arah/asal muasal sesuatu
mana (-kah) ? tempat menjelaskan nama/lokasi/posisi tempat
kapan (-kah) ? waktu menjelaskan waktu/kapan peristiwa terjadi
keberapa (-kah) ? urutan menjelaskan urutan ke berapa dari sejumlah angka
kemana (-kah) ? arah/tujuan menjelaskan arah/tujuan yang dituju
mana (-kah) ? pilihan menjelaskan satu/beberapa dari sejumlah pilihan
mengapa (-kah) ? alasan menjelaskan alasan/sebab terjadinya sesuatu
siapa (-kah) ? orang/manusia menyebutkan nama dan penjelasan seperlunya
dengan apa (-kah) ? alat menyebutkan alat yang digunakan
Kata
Tanya
Partikel Menanyakan Jawaban yang di inginkan
Kalimat tanya untuk menggali informasi umumnya digunakan
pada saat wawancara atau dalam dialog yang membahas tentang suatu
hal. Pertanyaan diajukan kepada narasumber yang diharapkan dapat
memberikan informasi atau penjelasan yang lebih dalam sesuai dengan
yang ditanyakan.
2. Kalimat Tanya Retorik
Kalimat tanya retorik ialah kalimat tanya yang tidak memerlukan
jawaban atau tidak mengharuskan adanya jawaban. Kalimat tanya retorik
cenderung bersifat pernyataan hanya untuk mencari perhatian atau
bermaksud memberi semangat, gugahan, atau kritik. Kalimat tanya retorik
sering digunakan dalam pidato-pidato atau orasi.
Contoh kalimat tanya retorik:
1. Saya tidak habis pikir mengapa dia menolak penugasan itu.
2. Siapa yang bekerja keras, dialah yang akan menjadi orang sukses.
3. Mana mungkin kita mampu membalas jasa kedua orang tua kita.
4. Apakah kita harus kembali dijajah?
5. Bagaimana bisa tugasmu selesai, kerjaanmu hanya bermalas-malasan.
96 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Ciri-ciri pertanyaan retorik:
(1) berbentuk pertanyaan dan penegasan,
(2) terkadang menggunakan kata tanya,
(3) tidak memerlukan jawaban,
(4) orang yang bertanya dan yang ditanya sama-sama mengetahui
jawabannya,
3. Kalimat Tanya untuk Konfirmasi dan Klarifikasi
Untuk melakukan klarifikasi (penjernihan) maupun konfirmasi
(pembenaran/penegasan), kita perlu mengajukan pertanyaan yang
jawabannya cukup perkataan ya atau tidak, atau ya atau bukan. Ada
beberapa
hal yang menandai bentuk pertanyaan untuk konfirmasi atau
klarifikasi, yaitu seperti berikut.
1. Menggunakan informasi tanya dengan menekankan kata-kata yang
dipentingkan.
Contoh:
1. Dia yang memukulmu kemarin?
2. Kalau begitu, Bapak yang berada di belakang ini semua?
2. Menggunakan partikel –kah.
Contoh:
1. Inikah yang dinamakan cinta?
2. Anak itukah yang dicari polisi?
3. Menggunakan kata tanya apa atau apakah.
Contoh:
1. Apa Bapak bersedia hadir pada acara peresmian kantor baru?
2. Apakah Anda masih sekolah?
4. Menggunakan kata tidak atau bukan sebagai unsur penegas.
Contoh:
1. Kamu jadi berangkat ke Bandung atau tidak?
2. Minuman ini beralkohol atau bukan?
5. Sebagai penegasan benar tidaknya, menggunakan kata bantu: benar,
betul, jadi benar, dan jadi.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 97
Contoh:
1. Jadi dia yang mendapat rangking satu?
2. Betul kamu yang mengambil uangnya?
3. Jadi benar ayahnya seorang pembunuh bayaran?
4. Benar dia adik kandungmu?
4. Kalimat Tanya Tersamar
Kalimat tanya tersamar adalah kalimat yang berisi pertanyaan yang
diajukan secara tidak langsung bukan untuk menggali informasi, klarifikasi,
dan konfirmasi melainkan mengandung maksud-maksud lain.
Beberapa model kalimat tanya tersamar antara lain seperti berikut.
a. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan memohon
Contoh:
1. Terima kasih Anda tidak membuang sampah di sini.
2. Tidak keberatan, kan kamu membawa koper ini?
3. Sudikah Anda mampir ke rumahku?
b. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan meminta
Contoh:
1. Masakan Anda kelihatannya lezat sekali?
2. Dapatkah Anda membantu saya hari ini.
3. Bolehkah makanan ini saya cicipi?
c. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan menyeluruh
Contoh:
1. Saya sangat senang jika Anda yang mengerjakan proyek ini.
2. Sebaiknya kamu jangan berangkat sekarang.
3. Maukah adik membantu saya menyelesaikan tugas ini?
d. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan mengajak
Contoh:
1. Bukankah Bapak bersedia untuk menyumbangkan tenaga dan
pikiran dalam kegiatan amal ini?
2. Siapkah Anda berangkat sekarang?
3. Bisakah membuat kopi untuk kakek?
e. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan merayu
Contoh:
1. Kamu orang yang sangat handal dalam mengatasi berbagai
masalah.
2. Tentunya Anda yang pantas menduduki jabatan ini.
3. Siapa yang menolak berteman dengan orang sebaik kamu?
98 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
f. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan menyindir (mengkritik, mencela,
mengejek)
Contoh:
Memang ya pekerjaannya luar biasa sulit sehingga kamu bisa
menyelesaikannya dengan cepat. Pekerjaan semudah ini tidak bisa
diselesaikan dengan benar.
g. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan meyakinkan
Contoh:
1. Saya rasa kamu mampu mengerjakannya hari ini?
2. Haruskah aku bersumpah agar kamu percaya?
3. Inikah hasil usahamu.
h. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan menyetujui
Contoh :
1. Saya kira kita sama-sama sependapat bukan?
2. Mana mungkin saya menolak ajakanmu?
3. Anda setuju dengan usulnya, kan?
i. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan menyanggah
Contoh:
1. Apakah tidak lebih baik kita tanyakan dulu masalah yang
sebenarnya?
2. Kamu ke sini tidak takut dimarahi ayahmu?
3. Mengapa kamu datang lagi ke sini?
j. Kalimat tanya tersamar untuk menawarkan sesuatu
Contoh:
1. Boleh saya bantu?
2. Anda membutuhkan bantuan saya?
3. Masih adakah yang perlu saya bawakan?
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 99
C. Mengutarakan Pendapat dengan Kalimat Tanya
yang Santun
Dalam melakukan tanya jawab, kita perlu memperhatikan adab
bertanya karena hal ini berhubungan dengan si penanya dan pihak yang
ditanya. Adab bertanya yang baik menjadi faktor utama sebagai penentu
respons pihak yang ditanya.
Teknik atau cara mengajukan pertanyaan adalah seperti berikut.
(1) Pertanyaan yang diajukan harus relevan dengan topik yang akan
ditanyakan.
(2) Pertanyaan yang diajukan benar-benar mengesankan keingintahuan
terhadap sesuatu yang menjadi topik pertanyaan.
(3) Pilihlah kata-kata yang baik dan santun agar mendapat respons yang
baik dan mendapatkan jawaban yang memuaskan.
(4) Hindari pertanyaan yang bersifat subjektif/pribadi.
(5) Pertanyaan yang diajukan harus bersifat menggali informasi sebelum
berlanjut ke pertanyaan yang bersifat konfirmasi atau penegasan.
(6) Jika pertanyaan menuntut sebuah tanggapan atau penilaian dari
narasumber, ada baiknya jika pertanyaan diawali dengan kata ”menurut
pendapat ...”. Misalnya, ”Menurut pendapat Bapak, bagaimana peranan
pemuda dalam memberantas penyalahgunaan narkoba?”
(7) Pertanyaan tidak bersifat memaksa, menekan, atau cenderung bertujuan
mencari kesalahan narasumber.
Contoh:
Berikut ini contoh sebuah wawancara reporter Berita Kota dengan
penyanyi dangdut legendaris A. Rafiq seputar keluarga dan rumah
tangganya.
Wartawan : “Bagaimana Bang Rafiq membina keluarga dan berhasil
awet hingga sekarang?”
A. Rafiq : “Pertama begini, saya punya satu prinsip dalam mengurus
dan memelihara rumah tangga, semua itu konsepnya
lain.”
100 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Wartawan : “Jadi, bagaimana dulu waktu memilih istri?”
A. Rafiq : “Istri saya itu tipe orang yang tidak pernah ke sana
kemari, nggak pernah macam-macam. Istri saya orang
rumahan, orang pendidikan yang betul-betul dididik oleh
keluarga yang baik yang menurut saya cukup terhormat
dan dengan landasan agama. Saya menikah dengan jalur
agamis.”
Wartawan : “Maksudnya?”
A. Rafiq : “Sampai saat ini saya dekenal orang. Bahkan katanya,
sampai hari ini untuk penyanyi skill on the scope, belum
ada yang bisa ngalahin saya. Itu kata orang. Toh orang
tidak akan percaya kalau lihat penampilan saya bahwa
saya nggak mabuk, bahwa saya nggak doyan perempuan.
Orang nggak percaya bahwa sampai hari ini saya nggak
penah kenal setetes minuman. Kenapa? Karena faktor
agama. Nah itu saya bawa dalam kehidupan saya.”
Wartawan : “Anak-anak bagaimana?” “Apakah mereka juga mengikuti
keteladanan yang Anda buat?”
A. Rafiq : “Alhamdulillah, wasyukurillah, kita nggak boleh takabur,
ya. Anak-anak saya itu yang namanya persoalan mendekati
narkoba, satu pun nggak ada. Merokok pun jika mungkin
terjadi dilakukan secara sembunyi-sembunyi di belakang
saya.”
Wartawan : “Hal apalagi yang Anda tekankan dalam mendidik
anak?”
A. Rafiq : “Masalah shalat dan mengaji. Soal kualitas dan perkembangannya
itu masing-masing, tetapi saya tekankan.
Anak saya itu nggak ada satu pun yang berani ninggalin
shalat. Anak saya, jangankan ninggalin, terlambat saja
saya pukul langsung.”
Wartawan : “Keras sekali Anda mendidik anak?”
A. Rafiq : “Ooh saya keras soal shalat. Tapi soal yang lain saya
dudukin. Saya ngomong, jangan gitu, jangan gini, lalu
memberi nasihat-nasihat. Tapi kalau soal shalat, lagsung
saya pukul. Langsung itu. Saya nggak ada ampun kalau
soal shalat.”
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 101
Wartawan : “Efeknya bagaimana ke anak-anak?”
A. Rafiq : Ooh luar biasa. Di mana saja mereka mesti shalat. dampaknya
pun luar biasa kalau mau berpegang pada agama,
nomor satu shalat. Boleh dibuktiin.
(Sumber: Berita Kota Minggu, 27 April 2008)
Drama
Bapak
Karya: B. Selano
Bapak : “Dia putra sulungku. Si anak hilang telah kembali ulang.
Dan sebuah usul diajukan segera mengungsi ke daerah
penduduk yang serta aman tenteram. Hem ya.. ya, usulnya
dapat kumengerti. Karena ia sudah terbiasa bertahuntahun
hidup di sana. Dalam sangkar. Jauh dari debu
prahara. Bertahun-tahun mata hatinya digelapbutakan
oleh nina bobok, lelabuai oleh si penjajah. Bertahun-tahun
semangatnya dijinakkan oleh suap roti keju. Celaka. Oo,
betapa celakanya.”
Si bungsu senyum memandang.
Bungsu : “Ah, Bapak rupanya lagi ngomong seorang diri.”
Bapak : “Ya, Anakku, terkadang orang lebih suka ngomong sendiri.
Tapi bukankah tadi engkau bersama abangmu?”
Bungsu : “Ya, sehari kami tamasya mengitari seluruh penjuru kota.
Sayang sekali kami tidak berhasil menjumpai ma.....”
Bapak : “Tunanganmu?”
Bungsu : “Ah, dia selalu sibuk dengan urusan kemiliteran melulu.
Bahkan, ketika kami mendatangi asramanya, ia tidak ada.
Kata mereka, ia sedang rapat dinas. He heh, seolah seluruh
hidupnya tersita untuk urusan-urusan militer saja.”
Bapak : “Kita sedang dalam keadaan darurat perang, Nak. Dan
dalam keadaan ini bagi seorang prajurit, kepentingan negara
ada di atas segalanya. Bukan saja seluruh waktunya, bahkan
jiwa raganya. Tapi, eh, mana abangmu sekarang?”
102 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Bungsu : “Oo, rupanya dia begitu rindu kepada bumi kelahirannya.
Seluruh penjuru kota dipotreti semua. Tapi, kurasa abang
akan segera tiba dan sudahkah Bapak menjawab usul yang
diajukannya itu?”
Bapak : “Itulah, itulah yang hendak kuputuskan sekarang ini,
Nak.”
Bungsu : “Nah, itu dia!”
Si sulung datang dengan mencangklong pesawat potret mengenakan
kata mata hitam. Terus duduk melepas kaca mata dan
meletakkan pesawat potret di meja.”
Sulung : “Huhuh, kota tercintaku ini rupanya sudah berubah wajah
dipenuhi baju seragam menyandang senapan. Dipagari
lingkaran kawat berduri dan wajahnya kini menjadi garang
berhiaskan laras-laras mesin. Tapi, di atas segalanya, kota
tercintaku ini masih tetap memperlihatkan kejelitaannya.”
Bapak : “Begitulah, Nak, suasana kota yang sedang dikecam
keadaan darurat perang.”
Sulung : “Ya, pertanda akan hilang keamanan, berganti huru-hara
keonaran. Dan mumpung masih keburu waktu, bagaimana
dengan putusan Bapak atas usulku itu?”
Bapak : “Menyesal sekali, Nak...”
Sulung : “Bapak menjawab dengan penolakan, bukan?”
Bapak : “Ya.”
Bungsu : “Jawaban Bapak sangat bijaksana.”
Sulung : “Bijaksana? Ya, kaubenar, manisku. Setidak-tidaknya
demikianlah anggapanmu karena bukankah secara
kebetulan tunanganmu adalah seorang perwira TNI di sini.
Tapi maaf, bukan maksudku menyindirmu, adik sayang.”
Bungsu : “Ah, tidak mengapa. Kauhanya sedang keletihan. Mengasohlah
dulu, ya, Abang. Mengasolah, kaubegitu capek
tampaknya. Bapak, biar aku pergi belanja dulu untuk
hidangan makan siang nanti.”
Sibungsu pergi. Si sulung mengantar dengan senyum.
Bapak : “Nak, pertimbangan bukanlah karena masa depan adikmu
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 103
seorang. Juga bukan karena masa depan sisa usiaku.”
Sulung : “Hem. Lalu? Karena rumah dan tanah pusaka ini barangkali,
ya Bapak.
Bapak : “Sesungguhnyalah, Nak. Lebih dari itu.”
Sulung : “Oo, ya? Apa itu ya, Bapak?”
Bapak : “Kemerdekaan.”
Sulung : “Kemerdekaan? Kemerdekaan siapa?”
Bapak : “Bangsa dan bumi pusaka ini.”
Si Sulung tertawa.
Sulung : “Bapak yang baik. Bertahun sudah aku di daerah pendudukan
sana bersama beribu bangsa awak tercinta. Dan
aku seperti juga mereka, tidak pernah merasa menjadi
budak belian ataupun tawanan perang. Ketahuilah, Bapak,
di sana hidup merdeka.”
Bapak : “Bebaskah kamu menuntut kemerdekaan?”
Sulung : “Hoho, apa mesti dituntut. Kami di sana manusia-manusia
merdeka.”
Bapak : “Bagaimana kemerdekaan menurut kau, Nak?”
Sulung : “Hem. Di sana kami punya wali negara, bangsa awak. Di
sana, segala lapangan kerja terbuka lebar-lebar bagi bangsa
awak. Di sana, bagian terbesar tentara polisi, alat negara
bangsa awak. Di atas segalanya, kami di sana hidup dalam
damai. Rukun berdampingan antara si putih dan bangsa
awak...”
Bapak : “Dan di atas segalanya pula, di sana si Putih menjadi
dipertuan. Dan sebuah bendera asing jadi lambang
kedaulatan, lambang kuasa, penjajahan. Dapatkah itu kauartikan
suatu kemerdekaan?”
Sulung : “Baik, baik. Tapi ya, Pak, kita bukan politisi.”
Bapak : “Nak, setiap patriot pada hakikatnya adalah seorang politisi
juga. Kendati tidak harus berarti menjadi seorang diplomat,
seorang negarawan. Dan justru, karena kesadaran dan
pengertian politiknya itulah seorang patriot akan senantiasa
membangkang terhadap tiap politik penjajahan.
Betapapun
manis bentuk lahirnya. Renungkanlah itu,
Nak. Dan marilah kuambil contoh masa lalu. Bukankah
dulu semasa kita masih hidup, keluarga dalam suasana
aman tenteram dan masa pensiun yang enak, sudah
dengan sendirinya berarti hidup dalam kemerdekaan?
Tidak Anakku! Kemerdekaan tidak ditentukan oleh semua
itu. Kemerdekaan adalah soal harga diri kebangsaan, soal
kehormatan kebangsaan. Ia ditentukan oleh kenyataan,
apakah suatu bangsa menjadi yang dipertuan mutlak
atas bumi pusakanya sendiri atau tidak. Ya, anakku,
renungkanlah kebenaran ucapan ini. Renungkanlah ......”

BAB 4 MEMBACA UNTUK MEMAHAMI MAKNA KATA, BENTUK KATA UNGKAPAN, DAN KALIMAT DALAM KONTEKS BEKERJA

BAB 4
MEMBACA UNTUK MEMAHAMI MAKNA KATA,
BENTUK KATA UNGKAPAN, DAN KALIMAT
DALAM KONTEKS BEKERJA
A. Klasifikasi Kata Berdasarkan Kelas Kata
Untuk mendayagunakan bahasa secara maksimal, diperlukan kesadaran
akan pentingnya pengayaan kosakat. Kesadaran itulah yang memotivasi
kita untuk lebih rajin membaca. Membaca merupakan kegiatan berbahasa
yang secara aktif menyerap informasi atau pesan yang disampaikan melalui
media tulis, seperti buku, majalah, dan surat kabar. Aktivitas membaca
tidak saja dilakukan untuk menyerap informasi atau pesan yang diuraikan
di dalam bacaan, tetapi membaca dapat juga dilakukan dengan tujuan
menelaah unsur-unsur kebahasaan yang terkandung di dalamnya.
Dalam sebuah bacaan, terkandung banyak unsur bahasa yang berkaitan
dengan makna kata dan ruang lingkupnya. Juga penggunaan gaya bahasa
yang berhubungan dengan ungkapan dan bentuk-bentuk pemakaiannya.
Pada bab ini, kita akan membahas dan menelaah unsur-unsur kebahasaan
di dalam bacaan berkaitan dengan kata, bentuk kata, ungkapan, serta
kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata.
Kata merupakan unsur yang sangat penting dalam membangun suatu
kalimat. Tanpa kata, tidak mungkin ada kalimat. Setiap kata mempunyai
fungsi dan peranan yang berbeda sesuai dengan kelas kata atau jenis
64 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
katanya. Di kelas X, kita sudah mempelajari kelas kata dan pada bab ini akan
dibahas kembali tentang kelas kata dan hubungannya dengan kalimat.
Secara umum kelas kata terdiri atas 5 macam, yaitu:
(1) kata kerja (verba)
(2) kata sifat (adjektif )
(3) kata keterangan (adverbia)
(4) kata benda (nomina), kata ganti (pronomina), kata bilangan (numeralia)
(5) kata tugas
1. Kata Kerja (Verba)
Kata kerja ialah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan. Kata
kerja biasanya berfungsi sebagai predikat. Suatu kata dapat digolongkan ke
dalam kelas kata kerja apabila memenuhi persyaratan berikut.
(1) Dapat diikuti oleh gabungan kata (frasa) dengan + kata sifat.
Contoh:
pergi (Pergi dengan gembira.)
tidur (Tidur dengan nyenyak.)
jalan (Jalan dengan santai.)
(2) Dapat diberi aspek waktu, seperti akan, sedang, dan telah.
Contoh:
(akan) mandi
(sedang) tidur
(telah) pergi
(3) Dapat diingkari dengan kata tidak.
Contoh:
(tidak) makan
(tidak) lihat
(tidak) pulang
(4) Berawalan me- dan ber-
Contoh:
melatih
melihat
merakit
berdiskusi
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 65
berpikir
berusaha
2. Kata Sifat (Adjektiva)
Kata sifat ialah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau
keadaan sesuatu, misalnya keadaan orang, binatang, benda. Kata sifat
berfungsi sebagai predikat.
Suatu kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata sifat apabila
memenuhi persyaratan berikut.
(1) Dapat diawali dengan kata sangat, paling dan diakhiri dengan kata
sekali.
Contoh:
indah (sangat indah/indah sekali)
baik (sangat baik/baik sekali)
tinggi (sangat tinggi/tinggi sekali)
(2) Dapat diberi awalan se- dan ter-.
Contoh:
luas (seluas/terluas)
bodoh (sebodoh/terbodoh)
mudah (semudah/termudah)
buruk (seburuk/terburuk)
baik (sebaik/terbaik)
(3) Dapat diingkari dengan kata tidak.
Contoh:
murah (tidak murah)
sulit (tidak sulit)
pahit (tidak pahit)
3. Kata Keterangan (Adverbia)
Kata keterangan atau adverbia adalah kata yang memberi keterangan
pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat.
Berikut adalah macam-macam adverbia.
(1) Adverbia dasar bebas, misalnya: alangkah, agak, akan, amat, nian, niscaya,
tidak, paling, pernah, pula, saja, saling.
(2) Adverbia turunan terbagi atas 3 bentuk berikut.
66 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
(a) Adverbia reduplikasi, misalnya ; agak-agak, lagi-lagi, lebih-lebih,
paling-paling.
(b) Adverbia gabungan, misalnya : belum boleh, belum pernah, atau tidak
mungkin.
(c) Adverbia yang berasal dari berbagai kelas, misalnya: terlampau,
agaknya, harusnya, sebaiknya, sebenarnya, secepat-cepatnya.
4. Kata Benda (Nomina), Kata Ganti (Pronomina), Kata Bilangan (Numeralia)
4.1. Kata benda
Kata benda ialah kata yang mengacu pada benda, orang, konsep,
ataupun pengertian yang berfungsi sebagai objek dan subjek. Suatu
kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata benda apabila memenuhi
persyaratan berikut.
(1) Dapat diikuti oleh frasa yang + sangat.
Contoh:
mobil (mobil yang bagus/mobil yang sangat bagus)
pemandangan (pemandangan yang indah/pemandangan yang
sangat indah)
pemuda (pemuda yang gagah/pemuda yang sangat gagah)
(2) Berimbuhan pe-, -an, pe-/-an, per-/-an, ke-/-an.
Contoh:
permainan
pertunjukan
kesehatan
(3) Dapat diingkari dengan kata bukan.
Contoh :
saya (bukan saya)
roti (bukan roti)
gubuk (bukan gubuk)
4.2. Kata Ganti (Pronomina)
Kata ganti atau pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu
pada nomina lain. Pronomina berfungsi untuk mengganti kata benda atau
nomina.
Contoh:
Aku sudah mencoba membujuknya.
Kami sangat berharap kepada kalian.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 67
Dia telah meninggalkan kita.
Itu memang miliknya.
4.3. Kata Bilangan (Numeralia)
Kata bilangan atau numeralia adalah kata yang dipakai untuk
menghitung banyaknya orang, binatang, dan benda.
Contoh:
Ibu membeli gelas selusin.
Ia mendapat peringkat pertama di kelasnya.
Bapak Bardi memiliki dua puluh ekor kambing.
Sepertiga dari harta warisan itu disumbangkan ke panti asuhan.
5. Kata Tugas
Kata tugas dapat dirinci menjadi empat jenis kata, yaitu (1) kata depan,
(2) kata sambung, (3) kata sandang, (4) kata seru, dan (5) partikel.
(1) Kata Depan (Preposisi)
Kata depan adalah kata yang menghubungkan dua kata atau dua
kalimat.
Contoh:
di (sebelah) utara = menunjuk arah
ke timur = menunjuk arah
dari pasar = menunjuk tempat
pada hari senin = menunjuk waktu
(2) Kata Sambung (Konjungsi)
Kata sambung adalah kata yang menghubungkan dua satuan bahasa
yang sederajat: kata dengan kata; frasa dengan frasa, klausa dengan
klausa.
Contoh :
adik dan kakak
makan atau minum
tidak makan, tetapi minum
ia tidak naik kelas karena bodoh
Adi meletakkan tasnya, lalu ia membuka seragamnya.
68 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
(3) Kata Sandang (Artikula)
Kata sandang adalah kata tugas yang membatasi makna nomina.
Contoh:
sang guru (sang bermakna tunggal)
para pemimpin (para bermakna jamak)
si cantik (si bermakna netral)
(4) Kata Seru (Interjeksi)
Kata seru adalah tugas yang digunakan untuk mengungkapkan seruan
hati.
Contoh:
Aduh, kakiku sakit sekali.
Astaga, mengapa kamu berani mencuri ?
Ayo, jangan putus asa.
Wah, mahal sekali!” kata adik.
Kata yang dicetak miring adalah kata seru. Contoh lain kata seru adalah
hai, nah, oh, celaka, gila, Masya Allah, dan Alhamdulillah.
(5) Partikel
Partikel adalah kategori atau unsur yang bertugas memulai,
mempertahankan, atau mengukuhkan sebuah kalimat dalam komunikasi.
Unsur ini digunakan dalam kalimat tanya, perintah, dan pernyataan
(berita).
Contoh partikel: -lah, -kah, -tah, -deh, -dong, -kek, dan -pun
Kita baru saja mempelajari kelas kata beserta ciri-cirinya. Dalam suatu
wacana, tentu terdapat berbagai kata, frasa, dan kalimat. Kita dapat merinci
setiap kata berdasarkan kelas katanya.
B. Klasifikasi Kata Berdasarkan Bentuk Kata
Dari segi bentuknya, kata dapat dibedakan atas empat macam, yaitu :
1. Kata Dasar
2. Kata Turunan
3. Kata Ulang
4. Kata Majemuk
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 69
1. Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang tidak berimbuhan atau yang belum
diberikan awalan, akhiran, sisipan, dan penggabungan awalan akhiran.
Kata-kata seperti baik, getar, kerja, sakit, gunung disebut sebagai kata dasar
karena kata-kata itu tidak berimbuhan atau belum diberi imbuhan. Jika katakata
itu diberi imbuhan, hasilnya antara lain terbaik, getaran, pekerja, kesakitan,
dan pegunungan. Jika sudah mengalami penambahan atau pengimbuhan,
kata tersebut sudah dikategorikan ke dalam kata turunan.
2. Kata Turunan
Sebuah kata dapat menyampaikan beberapa pengertian melalui
bentukan-bentukannya. Dari satu kata pula, kita dapat membuat atau
mengembangkannya menjadi beberapa kata turunan. Dari kata turunan
tersebut, kita dapat mengungkapkan satu bahkan beberapa ide/perasaan.
Pemekaran kata dengan memberi imbuhan itu pun akan membuat katakata
tersebut mengalami perubahan jenis atau kelas katanya. Coba Anda
amati kata satu termasuk kata bilangan/numeralia yang berarti “bilangan
asli pertama”. Kata satu diberi awalan ber- menjadi bersatu. Kata tersebut
mengalami perubahan arti, meskipun masih memiliki arti dasar yang tetap,
yaitu “satu”, bersatu artinya berkumpul atau bergabung menjadi satu. Kata
bersatu bukan merupakan kelas kata bilangan lagi, tetapi termasuk kelas
kata kerja.
Bagaimana pengimbuhannya?
Anda telah melihat bahwa dari satu kata (misalnya satu) dapat kita
bentuk belasan kata turunannya. Bentuk berimbuhan tersebut menunjukkan
pertalian yang teratur antara bentuk dan maknanya. Hal ini dapat berlaku
pula pada kata-kata yang lainnya. Perhatikan tabel berikut dengan cermat.
3. Kata Ulang
Kata ulang adalah kata yang mengalami proses pengulangan bentuk baik seluruh kata
maupun sebagian. Semua kata ulang wajib di tulis dengan memakai tanda penghubung ( - ).
Contoh :
lauk-pauk mondar-mandir
asuh pengasuh pengasuhan �� mengasuh asuhan
baca pembaca pembacaan membaca bacaan
bangun pembangun pembangunan membangun bangunan
buat pembuat pembuatan perbuatan membuat buatan
cetak pencetak pencetakan percetakan mencetak cetakan
edar pengedar pengedaran pengedaran mengedar edaran
potong pemotong pemotongan perpotongan memotong potongan
sapu penyapu penyapuan persapuan menyapu sapuan
tulis penulis penulisan menulis tulisan
ukir pengukir pengukiran mengukir ukiran
impor pengimpor pengimporan mengimpor imporan
Kata��Asal��
Verba
Pelaku Proses�� Hal/Tempat Perbuatan Hasil
70 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
3. Kata Ulang
Kata ulang adalah kata yang mengalami proses pengulangan bentuk
baik seluruh kata maupun sebagian. Semua kata ulang wajib ditulis dengan
memakai tanda penghubung (-).
Contoh:
lauk-pauk mondar-mandir
anak-anak porak-poranda
berjalan-jalan biri-biri
gerak-gerik kupu-kupu
dibesar-besarkan laba-laba
huru-hara
Macam-macam kata ulang
1. Ulangan seluruh kata dasar
Contoh:
anak-anak meja-meja
buku-buku ibu-ibu
main-main makan-makan
2. Ulangan kata dengan memberi imbuhan
Contoh:
berjalan-jalan bermanja-manja
dibesar-besarkan dipukul-pukulkan
berlari-larian menarik-narik
3. Ulangan seluruh kata, namun terjadi perubahan suara pada kata yang
kedua
Contoh:
gerak-gerik caci-maki
mondar-mandir compang-camping
huru-hara terang-benderang
bolak-balik carut-marut
lauk-pauk
4. Ulangan seluruh kata yang dinamakan kata asal
Misalnya :
anai-anai ubur-ubur
kunang-kunang lobi-lobi
kupu-kupu mata-mata
agar-agar
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 71
4. Kata Majemuk
Kata majemuk adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk
satu pengertian.
Contoh:
duta besar
kereta api senja utama
meja tulis guru
rumah makan
terjun payung
buku sejarah baru
kereta api cepat luar biasa
lapangan udara
rumah sakit jiwa
siap tempur
Contoh di atas menunjukkan bahwa kata dasar majemuk dapat sendiri
dari gabungan dua kata, tiga kata, empat kata, lima kata bahkan dapat
lebih. Hal yang terpenting adalah gabungan kata-kata itu harus menunjuk
kepada satu arti dan tidak melebihi batas fungsi sebagai kata.
Cara penulisan kata majemuk ada yang terpisah atas dua kata atau
lebih, seperti contoh tadi (duta besar, rumah makan) dan ada yang ditulis
serangkai (jika hubungan kedua kata sudah sangat padu).
Contoh:
matahari kacamata
sapu tangan beasiswa
olahraga antarkota
C. Klasifikasi Kata Berdasarkan Makna Kata
Kita sudah mempelajari proses pembentukan kata yang semua itu
berpengaruh pada perubahan makna kata dari makna awalnya. Selain
proses bentukan kata, makna kata juga dapat ditimbulkan oleh dua hal,
yaitu hubungan referensial dan hubungan antarmakna.
72 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
1. Makna Kata Berdasarkan Hubungan Referensial
Makna kata ini dibedakan menjadi:
a. Makna denotatif
Makna denotatif ialah makna yang paling dekat dengan bendanya
(makna konseptual), atau kata yang mengandung arti sebenarnya.
Contoh:
1. Bunga mawar itu dipetik Sita dan disuntingkan di rambutnya.
2. Untuk menafkahi kedua anaknya, ia menjual sayuran di pasar.
3. Penjual menawarkan barang kepada pembeli.
4. Bajunya basah kuyup terkena keringat.
b. Makna konotatif
Makna konotatif ialah makna kiasan atau diartikan makna yang
cenderung lain dengan benda nyata (makna kontekstual) disebut juga
makna tambahan.
Contoh :
1. Ayahnya mendapat kursi sebagai anggota dewan.
kursi artinya jabatan/kekuasaan
2. Hatiku berbunga-bunga setelah anakku mendapat juara pertama.
berbunga-bunga artinya gembira
3. Sekarang ia bekerja di tempat yang basah.
basah artinya selalu menghasilkan uang
Dalam pengertian lain makna konotasi berkaitan dengan cakupan
makna halus dan cakupan makna kasar.
Contoh cakupan makna halus:
1. Neneknya sudah meninggal dua hari yang lalu.
2. Istri Pak Dadang seorang perawat di rumah sakit pusat.
3. Ibunya Rosita sedang hamil lima bulan.
4. Mari kita doakan para pahlawan yang telah gugur agar arwahnya
diterima oleh Allah.
Contoh cakupan makna kasar:
1. Pamannya sudah mampus seminggu yang lalu.
2. Kakakku sedang bunting, dia harus berhati-hati.
3. Bininya seorang dokter.
4. Pahlawan telah mati di medan laga.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 73
c. Makna idiomatik (ungkapan)
Secara umum ungkapan berarti gabungan kata yang memberi arti
khusus atau kata-kata yang dipakai dengan arti lain dari arti yang
sebenarnya.
Ungkapan dapat juga diartikan makna leksikal yang dibangun dari
beberapa kata, yang tidak dapat dijelaskan lagi lewat makna kata-kata
pembentuknya.
Contoh:
ringan tangan = rajin bekerja, suka memukul
gerak langkah = perbuatan
dipeti-eskan = dibekukan atau tidak digunakan
tertangkap basah = terlihat saat melakukan
gali lubang tutup lubang = pinjam sini, pinjam sana
banting stir = mengubah haluan
jantung hati = kekasih
Ungkapan berfungsi menghidupkan, melancarkan serta mendorong
perkembangan bahasa Indonesia supaya dapat mengimbangi perkembangan
kebutuhan bahasa terhadap ilmu pengetahuan dan keindahan
sehingga tidak membosankan. Tata bahasa ibarat kebun, ungkapan
ibarat kembang-kembangnya. Dilihat dari bentuk dan prosesnya,
ungkapan dapat diperinci ke dalam beberapa jenis berikut.
1. Menurut jumlah kata
a. Dua kata
mencari ilham : berusaha mencari ide baru
bercermin bangkai : menanggung malu
b. Tiga kata atau lebih
diam seribu bahasa : membisu
hutangnya setiap helai bulu : tak terhitung banyaknya
2. Menurut zaman
a. Ungkapan lama
matanya bagai bintang timur : bersinar, tajam
rambutnya bagai mayang mengurai : ikal, keriting
berminyak air : berpura-pura
b. Ungkapan baru
ranjau pers : undang-undang pers
berebut senja : siang berganti malam
ranum dunia : penyebab kesulitan
74 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
3. Menurut asalnya
a. Ungkapan berasal dari bahasa asing
black sheep : kambing hitam
over nemen : mengambil oper
side effect : akibat samping
b. Ungkapan berasal dari bahasa daerah
soko guru : suri tauladan
anak bawang : yang tidak diutamakan
2. Makna Kata Berdasarkan Hubungan Antarmakna
Makna kata berdasarkan hubungan antarmakna terdiri atas sinonim,
antonim, dan hiponim.
a. Sinonim
Sinonim ialah pasangan kata atau kelompok kata yang mempunyai arti
mirip atau hampir sama. Walaupun sinonim menunjukkan kesamaan arti
kata, sesungguhnya arti kata-kata itu tidaklah sama betul. Dalam kalimat
tertentu, suatu kata mungkin dapat digunakan tetapi dalam kalimat lain
tidak dapat digunakan atau penggunaannya selalu dipertimbangkan oleh
unsur nilai rasa atau lingkungan penuturnya (kontekstual).
Contoh sinonim dengan kata yang sama maknanya :
Bung Hatta telah wafat. (telah = sudah)
Kita merdeka karena jasa Bung Hatta. (karena = sebab)
Bung Hatta sangat berjasa. (sangat = amat)
Contoh beberapa kata yang memiliki kemiripan makna :
Tepat di muka gedung kantor pos Jakarta berdirilah sebuah
kompleks bangunan kuno yang kukuh.
Persis di bangunan kantor pos Jakarta kota tertancaplah
sebuah kawasan bangunan kolot yang kuat.
Makna kalimat 1 dan 2 sama. Namun kalimat 1 lebih jelas isinya, kalimat
2 pilihan katanya kurang tepat sehingga pembaca / pendengar menjadi ragu
menafsirkan maknanya.
b. Antonim
Antonim adalah kata-kata yang berlawanan maknanya/berlawanan
artinya.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 75
Contoh:
a) Sejak sakit batuk, ia pantang minum es.
Ia harus meminum obat itu sesuai yang dianjurkan oleh dokter.
b) Aksi penebangan pohon merupakan perusakan hutan.
Pemerintah menghimbau agar warga melestarikan hutan.
c) Kadang-kadang ia berlatih seminggu sekali.
Nasihat orang tuanya seringkali tidak didengarnya.
d) Perkembangan anak itu sangat lambat.
Dengan tangkasnya, ia menendang bola ke mulut gawang.
Terdapat beberapa perbedaan antara kata-kata yang berantonim.
Oposisi antarkata dapat berbentuk seperti berikut.
a. Oposisi kembar
Contoh:
laki-laki-perempuan
jantan–betina
hidup-mati
b. Oposisi majemuk
Contoh:
baju-merah
sapu- tangan
rumah-makan
c. Oposisi gradual
Contoh:
kaya- miskin
panjang- pendek
d. Oposisi relasional (kebalikan)
Contoh:
orangtua-anak
guru-murid
memberi-menerima
e. Oposisi inversi
Contoh:
Jual-beli
Pulang-pergi
76 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
f. Oposisi komplementer
Contoh:
mur-baut
kompor-minyak
g. Oposisi inkompabilitas
Contoh:
merah-hijau
h. Oposisi hierarki
Contoh:
- camat lurah.
c. Hiponim
Hiponim ialah kata yang memiliki hubungan hierarkis dengan
beberapa kata yang lain. Hubungan hierarki ini terdiri atas satu kata yang
merupakan induk (hipernim), yang memiliki semua komponen makna kata
lainnya yang menjadi unsur bawahannya (hiponim). Proses hiponim dan
hipernim menimbulkan istilah kata umum dan kata khusus.
Kata umum dipakai untuk mengungkapkan gagasan umum,
sedangkan kata khusus digunakan untuk perinciannya. Jadi, kata umum
dapat diterapkan untuk semua hal, sedangkan kata khusus diterapkan
untuk hal tertentu saja. Contoh penggunaan kata umum dan khusus dalam
kalimat seperti berikut.
1. Pukul 07.00 WIB bel berdering cukup keras.
Berdering (kata khusus), biasanya digunakan untuk bunyi bel. Kata
umumnya ialah bunyi. Kata bunyi bisa digunakan untuk semua suara
benda/sesuatu.
2. Untuk menyambut tahun baru, Ibu merangkai melati dan mawar.
Kata melati dan mawar merupakan kata khusus. Kata umumnya ialah
bunga.
Berdasarkan contoh penggunaan kata umum dan kata khusus di atas,
cermatilah kata umum dan kata khusus pada tabel berikut ini.
Kata Umum Kata Khusus
melihat memandang, menonton, meratap,
menyaksikan, menengok, mengintip
mamalia sapi, kambing, kucing
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 77
pola hidup berfoya-foya, boros, irit, mewah,
sederhana
musik jazz, rock, keroncong.
kendaraan mobil, motor, bus
membawa menjinjing, memikul, memanggul,
menenteng, menggendong
memotong memenggal, mengiris, menebang,
memancung, menggergaji
D. Penggunaan Kamus dalam Mencari Bentuk,
Kategori, dan Makna Kata
Kamus dapat membantu seseorang untuk mencari variasi bentukan
kata, kelas kata, dan contoh-contoh pemakaiannya, termasuk pelafalan,
pedoman kata, dan bentuk ungkapannya. Kamus disusun berdasarkan
abjad yang disertai penjelasan tentang makna dan pemakaiannya. Di dalam
kamus, terdapat keterangan tentang hal-hal berikut.
(1) Label bidang ilmu, contoh: Adm (administrasi dan kepegawaian), Anat
(anatomi) Ark (arkeologi).
(2) Dialek, contoh Jw untuk Jawa, BT untuk Batak, Ar untuk Arab, Bld
untuk Belanda.
(3) Ragam bahasa, contoh cak untuk cakapan, hor untuk ragam hormat, kas
untuk ragam kasar.
(4) Penjelasan makna, contoh berlari: berjalan kencang,
(5) Label kelas kata, contoh a (adjektiva), adv (adverbia), n (nomina), v
(verba)
78 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Contoh Lembaran Kamus
E. Bentukan Kata/Frasa Baru
Kata adalah satuan terkecil dari tata bahasa yang bermakna. Makna kata
merupakan perwujudan kesatuan perasaan dari pikiran yang disampaikan
lewat bahasa. Dari satu kata, dapat kita bentuk belasan kata turunannya.
Bentuk berimbuhan tersebut menunjukkan pertalian yang teratur antara
bentuk dan maknanya. Dalam perkembangan bahasa Indonesia, kata banyak
mengalami penambahan. Hal ini terjadi karena adanya proses asimilasi
dan adaptasi dari kosakata asing dan juga akibat paradigma atau proses
analogi. Paradigma artinya pembentukan kata mengikuti pola atau contoh
yang sudah ada, sedangkan analogi membandingkan pola yang sudah ada.
Pada dasarnya keduanya sama.
Contoh bentukan kata berdasarkan paradigma:
Cuci
Mencuci (perbuatan) pencuci (pelaku) pencucian (proses) cucian (hasil)
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 79
Berlaku pula pada kata-kata di bawah ini.
Pelaku Proses Hasil Perbuatan
potong pemotong pemotongan potongan memotong
cetak pencetak pencetakan cetakan mencetak
lukis pelukis pelukisan lukisan melukis
tanam penanam penanaman tanaman menanam
ajar pelajar pembelajaran ajaran mengajar
Bentuk Dasar
Makna
Contoh pembentukan frasa berdasarkan paradigma atau analogi.
1. Dari frasa rumah produksi, muncul frasa yang sejenis, yaitu:
rumah singgah
rumah potong
rumah duka
rumah industri
2. Dari frasa bawah sadar, muncul frasa baru:
bawah umur
bawah standar
bawah tanah
bawah harga
3. Dari bentukan kata pramugari dan pramuniaga, muncullah bentukan
kata:
pramuwisma
pramusiwi
pramusaji
pramuria
pramuwisata
pramujasa
4. Dari frasa alih bahasa, timbul frasa:
alih ragam
alih ilmu
alih kuasa
alih haluan
alih teknologi
5. Dari frasa hari raya muncul frasa baru :
jalan raya
pasar raya
80 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
panen raya
6. Dari kata tamu agung muncul
jaksa agung
upacara agung
hakim agung
jumat agung
dewan pertimbangan agung
mahkamah agung
karya agung
7. Dari gabungan kata angkat topi timbul gabungan kata:
angkat diri
angkat bicara
angkat sumpah
angkat sembah
angkat bahu
angkat kaki
8. Dari istilah adipati, timbul istilah:
adibusana
adikuasa
adidaya
adikarya
Contoh pembentukan kata yang dipengaruhi oleh imbuhan asing.
-if : aktif, agresif
-er : komplementer, parlementer
-al : struktur, normal
-is : teknis, praktis
-isasi : modernisasi, normalisasi, legalisasi
pasca- : pascapanen, pascasarjana
pra- : prasejarah, prakarsa.
F. Pemakaian Kata , Frasa, dan Kalimat yang Kurang
Tepat
Dalam kegiatan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan,
adakalanya pemakai bahasa tidak cermat memilih kata yang dituangkannya
di dalam kalimat. Akibatnya, kalimat yang diungkapkan tidak tepat atau
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 81
tidak sesuai dengan kaidah yang benar. Kesalahan itu dapat terjadi pada
penggunaan bentuk kata (proses morfologi), pemakaian kelompok kata
(frasa), pemilihan ungkapan, atau keefektifan kalimat.
Dalam bentuk lisan, kesalahan itu terjadi disebabkan oleh hal-hal
berikut.
1. Kesalahan penggunaan imbuhan (bentuk kata).
Contoh :
a. Pintu masuk SMK 3 akan diperlebarkan. (salah)
Pintu masuk SMK 3 akan dilebarkan atau Pintu masuk SMK 3 akan
diperlebar. (benar)
b. Jangan dibiasakan mengenyampingkan masalah itu. (salah)
Jangan dibiasakan mengesampingkan masalah itu. (benar)
c. Rudi sedang mencat pagar rumahnya. (salah)
Rudi sedang mengecat pagar rumahnya. (benar)
2. Ketidaktepatan pemakaian frasa (kelompok kata).
Contoh :
a. Untuk sementara waktu, siswa tidak bisa praktik karena ruangan
sedang direnovasi. (salah)
Untuk sementara siswa tidak bisa praktik karena ruangan sedang
direnovasi. (benar)
b. Bus Parahiyangan sudah dinyatakan laik darat. (salah)
Bus Parahiyangan sudah dinyatakan laik jalan. (benar)
3. Kesalahan kalimat
a. Di dalam darah orang itu mengandung virus HIV. (salah)
Darah orang itu mengandung virus HIV. (benar)
b. Untuk peningkatan mutu pendidikan dari sekolah swasta dimana
memerlukan ketekunan dan keuletan para pamong. (salah)
Untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah swasta diperlukan
ketekunan dan keuletan para pamongnya. (benar)
Kesalahan juga banyak terjadi akibat penggunaan bentukan kata atau
frasa yang baru yang tidak lazim atau tidak benar secara kaidah bahasa.
Ketidaktepatan bentukan kata atau frasa juga dapat disebabkan kesalahan
secara analogi atau paradigma.
82 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Perhatikanlah contoh di bawah ini.
a. pertanggungan jawab dalam kalimat “Laporan pertanggungan jawab
gubernur telah diterima sebagian besar anggota dewan.” (tidak tepat
secara kaidah/tidak lazim) seharusnya pertanggungjawaban.
b. goreng pisang dalam kalimat “Ia membeli goreng pisang untuk adiknya.”
(tidak tepat secara kaidah/tidak lazim ) seharusnya pisang goreng.
c. pengangguran dalam kalimat “Ia menjadi pengangguran setelah
perusahaannya bangkrut.” (salah secara analogi) seharusnya penganggur
dari kata menganggur (verba)-penganggur (nomina)-pengangguran
(nomina proses)
d. ruang rokok untuk ruang khusus merokok (tidak lazim) meskipun
dianalogikan kepada ruang tunggu untuk ruang khusus menunggu.
e. Bentuk kata pemelajaran, tidak tepat secara analogi, sebab kata tersebut
berasal dari kata belajar yang diberi imbuhan pe-an, seperti kata berhenti
menjadi pemberhentian.
f. Kata penglepasan, pada kalimat “ Penglepasan siswa kelas XII dimeriahkan
dengan kegiatan pentas seni dari siswa-siswi.” Tidak tepat secara
analogi, sebab kata dasarnya lepas, jika diberi imbuhan pe-an, menjadi
pelepasan.
Untuk membuat kalimat yang cermat, kita harus memahami ciri kalimat
efektif. Kalimat yang baik atau efektif mempunyai ciri-ciri seperti berikut.
a. Kepadanan
Memiliki S dan P dengan jelas.
(di depan S tidak boleh ada kata depan dan di depan P tidak boleh
ada kata penghubung yang)
Contoh:
(1) Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang
kuliah. (benar)
(2) Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar
uang kuliah. (salah)
Tidak terdapat S ganda.
Contoh:
(1) Dia pulang setelah dia membeli berbagai kebutuhan. (salah)
(2) Dia pulang setelah membeli berbagai kebutuhan. (benar)
Kata penghubung intra kalimat tidak dipakai dalam kalimat
tunggal.
Contoh:
(1) Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat
mengikuti acara pertama. (salah)
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 83
(2) Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat
mengikuti acara pertama. (benar)
b. Keparalelan
Persamaan bentuk kata digunakan dalam kalimat yang mengandung
rincian.
Contoh:
(1) Harga minyak dibekukan dan dinaikkan secara bertahap (benar)
(2) Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara bertahap.
c. Kehematan
Kehematan menggunakan kata atau frasa
Menghindarkan penjamakan bentuk jamak
Contoh:
(1) Para tamu-tamu mencicipi hidangan yang disediakan. (salah)
(2) Para tamu mencicipi hidangan yang disediakan. (benar)
Penggunaan kata-kata yang berlebihan.
Contoh:
(1) Ia memakai baju warna merah. (salah)
(2) Ia memakai baju merah. (benar)
d. Kepaduan (tegas dan lugas)
Hindarkan kalimat bertele-tele.
Contoh:
(1) Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita,
orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa
kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak ke luar
dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan
yang adil dan beradab. (salah)
(2) Kita harus dapat mengembalikan kepribadian kita yang sudah
ke luar dari rasa kemanusiaan dan dari kepribadian manusia
Indonesia yang adil dan beradab.
e. Kecermatan
Kecermatan pemakaian kata, penulisan kata, penggunaan tanda baca.
Contoh : Dua puluh lima ribuan.
Bisa diartikan dua puluh lima lemar uang ribuan (Rp 25.000,-)
Atau
Dua puluh lembar uang, lima ribuan.
84 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas