Senin, 10 Oktober 2011

BAB 5 MENGGUNAKAN SECARA LISAN KALIMAT TANYA/PERTANYAAN DALAM KONTEKS BEKERJA

BAB 5
MENGGUNAKAN SECARA LISAN KALIMAT
TANYA/PERTANYAAN DALAM KONTEKS BEKERJA
Wacana
Pertumbuhan Kami Paling Tinggi
Pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat.
Melihat kenyataan itu, Pemkab Sragen berupaya memacu pergerakan sektorsektor
ekonomi. Mengupas strategi yang dijalankan Pemkab Sragen, berikut
petikan wawancara SINDO dengan Bupati Sragen, Untung Wiyono.
Bagaimana visi Anda dalam membangun Sragen?
Kami berkeinginan menjadikan Sragen sebagai kabupaten cerdas
yang dilandasi kemandirian, kemajuan, dan penegakan supremasi hukum.
Didukung SDM berkualitas yang bertumpu pada ilmu pengetahuan
dan teknologi, hasil pertanian, industri, pariwisata, perdagangan/jasa,
kesehatan, wawasan lingkungan, dalam rangka mewujudkan keadilan dan
kesejahteraan lahir batin.
Apa program-program Pemkab untuk mengentaskan kemiskinan?
Pemkab membuat program dan kegiatan yang secara langsung maupun
tidak langsung dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus
dapat mengurangi jumlah pengangguran. Kebijakan ini diarahkan agar
dapat mengurangi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Untuk
itu, program dan kegiatan harus diarahkan pada kebutuhan mendasar bagi
masyarakat miskin.
Bagaimana efektivitas program-program tersebut?
Sangat efektif, terbukti pertumbuhan ekonomi terus mengalami
peningkatan. Tercatat, pada kuartal pertama 2007, pertumbuhan ekonomi
Sragen mencapai 6,8%. Angka ini paling tinggi di wilayah Karesidenan
Surakarta. Angka kemiskinan secara riil juga terus mengalami penurunan
setiap tahunnya.
Apa kendala yang dihadapi dalam menjalankan program-program itu?
Kendala awal adalah data yang kurang akurat. Selain itu, infrastruktur
yang sebelumnya belum memadai.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 93
Apa rencana Anda selanjutnya terkait program pengentasan kemiskinan?
Desentralisasi desa dan kecamatan yang berorientasi pada pelayanan
masyarakat, serta menempatkan tiga PNS di tiap-tiap desa. Satu PNS
adalah Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang tugasnya mengarahkan
petani di desa untuk membangun ekosistem pertanian, peternakan, dan
perikanan yang ideal. Dua PNS lainnya fokus pada program pemberdayaan
masyarakat desa.
Anda puas dengan hasil yang telah diperoleh?
Yang jelas, kemajuan harus terus ditingkatkan untuk mewujudkan
masyarakat Sragen yang sejahtera.
Apa program terobosan yang akan dilakukan pada masa mendatang?
Salah satunya membuat program pendataan tanah. Program ini berbasis
desa. Dengan berbasis desa, Pemkab berharap proses sertifikasi tanah
di Sragen bisa dilakukan secara serempak.
Kemudian, kami akan terus menjalankan program one-stop service.
Namun, keberadaan pelayanan terpadu satu pintu hanyalah salah satu
sarana untuk meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat. Ke depan tetap
diperlukan berbagai inovasi lain. Manajemen pemerintahan harus inovatif,
tidak boleh berhenti.
(Sumber: Berita Kota Minggu, 6 Januari 2008)
A. Pengertian dan Fungsi Kalimat Tanya
Kalimat tanya adalah kalimat yang disampaikan dengan maksud
mendapat jawaban berupa informasi, penjelasan, atau pernyataan. Jawaban
atas kalimat tanya dapat berbentuk jawaban pendek atau panjang.
Kalimat tanya berfungsi untuk meminta jawaban berupa penjelasan,
untuk menggali informasi, untuk klarifikasi, atau konfirmasi. Kalimat
tanya juga digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu yang disebut kalimat
tanya tersamar. Selain itu, ada juga kalimat tanya yang diajukan tanpa
memerlukan jawaban yang disebut kalimat tanya retoris. Pada pelajaran
ini, macam-macam kalimat tanya seperti itu akan kita pelajari kembali.
Perhatikan contoh keragaman kalimat tanya berikut.
94 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
1. Apakah Anda bersedia ditugaskan di sini? (konfirmasi)
2. Dari semua barang yang ditawarkan ini, mana yang Anda pilih?
(pilihan)
3. Di manakah alamat Anda? (menggali informasi tentang tempat)
4. Apakah kita tidak malu menjadi bangsa yang terkenal karena korupsinya?
(retorik)
5. Siapa yang tidak hadir hari ini? (menanyakan orang)
6. Bagaimana perasaannya, hanyalah Tuhan yang tahu. (retorik)
7. Diakah orang yang kemarin mencarimu? (klarifikasi)
8. Sudahkah Anda terima kiriman saya kemarin? (konfirmasi)
9. Dapatkah Anda menyelesaikan tugas ini dengan cepat? (menyuruh)
10. Siapakah yang tidak ingin sukses? (retorik)
B. Jenis Kalimat Tanya
Dilihat dari pemakaian secara lisan maupun kalimat, kalimat tanya
dapat dibedakan menjadi kalimat tanya biasa, tanya retoris, kalimat tanya
bertujuan untuk klarifikasi atau konfirmasi, dan kalimat tanya tersamar.
1. Kalimat Tanya Biasa
Salah satu ciri kalimat tanya ialah menggunakan kata tanya. Kata tanya
biasanya digunakan untuk pertanyaan yang bertujuan meminta penjelasan
atau menggali informasi. Di bawah ini adalah tabel yang berisi macammacam
kata tanya dan tujuan penggunaannya berikut jawaban yang
diinginkan oleh penanya. Perhatikan dengan saksama.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 95
apa (-kah) ? suatu benda/binatang ya/tidak/bukan
bagaimana (-kah) ? cara/proses menjelaskan cara/proses kerja sesuatu
berapa (-kah) ? jumlah menjelaskan jumlah tertentu (yang pasti)
bilamana (-kah) ? waktu menjelaskan waktu/kurun waktu tertentu
dari mana (-kah) ? arah/asal menjelaskan arah/asal muasal sesuatu
mana (-kah) ? tempat menjelaskan nama/lokasi/posisi tempat
kapan (-kah) ? waktu menjelaskan waktu/kapan peristiwa terjadi
keberapa (-kah) ? urutan menjelaskan urutan ke berapa dari sejumlah angka
kemana (-kah) ? arah/tujuan menjelaskan arah/tujuan yang dituju
mana (-kah) ? pilihan menjelaskan satu/beberapa dari sejumlah pilihan
mengapa (-kah) ? alasan menjelaskan alasan/sebab terjadinya sesuatu
siapa (-kah) ? orang/manusia menyebutkan nama dan penjelasan seperlunya
dengan apa (-kah) ? alat menyebutkan alat yang digunakan
Kata
Tanya
Partikel Menanyakan Jawaban yang di inginkan
Kalimat tanya untuk menggali informasi umumnya digunakan
pada saat wawancara atau dalam dialog yang membahas tentang suatu
hal. Pertanyaan diajukan kepada narasumber yang diharapkan dapat
memberikan informasi atau penjelasan yang lebih dalam sesuai dengan
yang ditanyakan.
2. Kalimat Tanya Retorik
Kalimat tanya retorik ialah kalimat tanya yang tidak memerlukan
jawaban atau tidak mengharuskan adanya jawaban. Kalimat tanya retorik
cenderung bersifat pernyataan hanya untuk mencari perhatian atau
bermaksud memberi semangat, gugahan, atau kritik. Kalimat tanya retorik
sering digunakan dalam pidato-pidato atau orasi.
Contoh kalimat tanya retorik:
1. Saya tidak habis pikir mengapa dia menolak penugasan itu.
2. Siapa yang bekerja keras, dialah yang akan menjadi orang sukses.
3. Mana mungkin kita mampu membalas jasa kedua orang tua kita.
4. Apakah kita harus kembali dijajah?
5. Bagaimana bisa tugasmu selesai, kerjaanmu hanya bermalas-malasan.
96 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Ciri-ciri pertanyaan retorik:
(1) berbentuk pertanyaan dan penegasan,
(2) terkadang menggunakan kata tanya,
(3) tidak memerlukan jawaban,
(4) orang yang bertanya dan yang ditanya sama-sama mengetahui
jawabannya,
3. Kalimat Tanya untuk Konfirmasi dan Klarifikasi
Untuk melakukan klarifikasi (penjernihan) maupun konfirmasi
(pembenaran/penegasan), kita perlu mengajukan pertanyaan yang
jawabannya cukup perkataan ya atau tidak, atau ya atau bukan. Ada
beberapa
hal yang menandai bentuk pertanyaan untuk konfirmasi atau
klarifikasi, yaitu seperti berikut.
1. Menggunakan informasi tanya dengan menekankan kata-kata yang
dipentingkan.
Contoh:
1. Dia yang memukulmu kemarin?
2. Kalau begitu, Bapak yang berada di belakang ini semua?
2. Menggunakan partikel –kah.
Contoh:
1. Inikah yang dinamakan cinta?
2. Anak itukah yang dicari polisi?
3. Menggunakan kata tanya apa atau apakah.
Contoh:
1. Apa Bapak bersedia hadir pada acara peresmian kantor baru?
2. Apakah Anda masih sekolah?
4. Menggunakan kata tidak atau bukan sebagai unsur penegas.
Contoh:
1. Kamu jadi berangkat ke Bandung atau tidak?
2. Minuman ini beralkohol atau bukan?
5. Sebagai penegasan benar tidaknya, menggunakan kata bantu: benar,
betul, jadi benar, dan jadi.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 97
Contoh:
1. Jadi dia yang mendapat rangking satu?
2. Betul kamu yang mengambil uangnya?
3. Jadi benar ayahnya seorang pembunuh bayaran?
4. Benar dia adik kandungmu?
4. Kalimat Tanya Tersamar
Kalimat tanya tersamar adalah kalimat yang berisi pertanyaan yang
diajukan secara tidak langsung bukan untuk menggali informasi, klarifikasi,
dan konfirmasi melainkan mengandung maksud-maksud lain.
Beberapa model kalimat tanya tersamar antara lain seperti berikut.
a. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan memohon
Contoh:
1. Terima kasih Anda tidak membuang sampah di sini.
2. Tidak keberatan, kan kamu membawa koper ini?
3. Sudikah Anda mampir ke rumahku?
b. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan meminta
Contoh:
1. Masakan Anda kelihatannya lezat sekali?
2. Dapatkah Anda membantu saya hari ini.
3. Bolehkah makanan ini saya cicipi?
c. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan menyeluruh
Contoh:
1. Saya sangat senang jika Anda yang mengerjakan proyek ini.
2. Sebaiknya kamu jangan berangkat sekarang.
3. Maukah adik membantu saya menyelesaikan tugas ini?
d. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan mengajak
Contoh:
1. Bukankah Bapak bersedia untuk menyumbangkan tenaga dan
pikiran dalam kegiatan amal ini?
2. Siapkah Anda berangkat sekarang?
3. Bisakah membuat kopi untuk kakek?
e. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan merayu
Contoh:
1. Kamu orang yang sangat handal dalam mengatasi berbagai
masalah.
2. Tentunya Anda yang pantas menduduki jabatan ini.
3. Siapa yang menolak berteman dengan orang sebaik kamu?
98 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
f. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan menyindir (mengkritik, mencela,
mengejek)
Contoh:
Memang ya pekerjaannya luar biasa sulit sehingga kamu bisa
menyelesaikannya dengan cepat. Pekerjaan semudah ini tidak bisa
diselesaikan dengan benar.
g. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan meyakinkan
Contoh:
1. Saya rasa kamu mampu mengerjakannya hari ini?
2. Haruskah aku bersumpah agar kamu percaya?
3. Inikah hasil usahamu.
h. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan menyetujui
Contoh :
1. Saya kira kita sama-sama sependapat bukan?
2. Mana mungkin saya menolak ajakanmu?
3. Anda setuju dengan usulnya, kan?
i. Kalimat tanya tersamar untuk tujuan menyanggah
Contoh:
1. Apakah tidak lebih baik kita tanyakan dulu masalah yang
sebenarnya?
2. Kamu ke sini tidak takut dimarahi ayahmu?
3. Mengapa kamu datang lagi ke sini?
j. Kalimat tanya tersamar untuk menawarkan sesuatu
Contoh:
1. Boleh saya bantu?
2. Anda membutuhkan bantuan saya?
3. Masih adakah yang perlu saya bawakan?
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 99
C. Mengutarakan Pendapat dengan Kalimat Tanya
yang Santun
Dalam melakukan tanya jawab, kita perlu memperhatikan adab
bertanya karena hal ini berhubungan dengan si penanya dan pihak yang
ditanya. Adab bertanya yang baik menjadi faktor utama sebagai penentu
respons pihak yang ditanya.
Teknik atau cara mengajukan pertanyaan adalah seperti berikut.
(1) Pertanyaan yang diajukan harus relevan dengan topik yang akan
ditanyakan.
(2) Pertanyaan yang diajukan benar-benar mengesankan keingintahuan
terhadap sesuatu yang menjadi topik pertanyaan.
(3) Pilihlah kata-kata yang baik dan santun agar mendapat respons yang
baik dan mendapatkan jawaban yang memuaskan.
(4) Hindari pertanyaan yang bersifat subjektif/pribadi.
(5) Pertanyaan yang diajukan harus bersifat menggali informasi sebelum
berlanjut ke pertanyaan yang bersifat konfirmasi atau penegasan.
(6) Jika pertanyaan menuntut sebuah tanggapan atau penilaian dari
narasumber, ada baiknya jika pertanyaan diawali dengan kata ”menurut
pendapat ...”. Misalnya, ”Menurut pendapat Bapak, bagaimana peranan
pemuda dalam memberantas penyalahgunaan narkoba?”
(7) Pertanyaan tidak bersifat memaksa, menekan, atau cenderung bertujuan
mencari kesalahan narasumber.
Contoh:
Berikut ini contoh sebuah wawancara reporter Berita Kota dengan
penyanyi dangdut legendaris A. Rafiq seputar keluarga dan rumah
tangganya.
Wartawan : “Bagaimana Bang Rafiq membina keluarga dan berhasil
awet hingga sekarang?”
A. Rafiq : “Pertama begini, saya punya satu prinsip dalam mengurus
dan memelihara rumah tangga, semua itu konsepnya
lain.”
100 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Wartawan : “Jadi, bagaimana dulu waktu memilih istri?”
A. Rafiq : “Istri saya itu tipe orang yang tidak pernah ke sana
kemari, nggak pernah macam-macam. Istri saya orang
rumahan, orang pendidikan yang betul-betul dididik oleh
keluarga yang baik yang menurut saya cukup terhormat
dan dengan landasan agama. Saya menikah dengan jalur
agamis.”
Wartawan : “Maksudnya?”
A. Rafiq : “Sampai saat ini saya dekenal orang. Bahkan katanya,
sampai hari ini untuk penyanyi skill on the scope, belum
ada yang bisa ngalahin saya. Itu kata orang. Toh orang
tidak akan percaya kalau lihat penampilan saya bahwa
saya nggak mabuk, bahwa saya nggak doyan perempuan.
Orang nggak percaya bahwa sampai hari ini saya nggak
penah kenal setetes minuman. Kenapa? Karena faktor
agama. Nah itu saya bawa dalam kehidupan saya.”
Wartawan : “Anak-anak bagaimana?” “Apakah mereka juga mengikuti
keteladanan yang Anda buat?”
A. Rafiq : “Alhamdulillah, wasyukurillah, kita nggak boleh takabur,
ya. Anak-anak saya itu yang namanya persoalan mendekati
narkoba, satu pun nggak ada. Merokok pun jika mungkin
terjadi dilakukan secara sembunyi-sembunyi di belakang
saya.”
Wartawan : “Hal apalagi yang Anda tekankan dalam mendidik
anak?”
A. Rafiq : “Masalah shalat dan mengaji. Soal kualitas dan perkembangannya
itu masing-masing, tetapi saya tekankan.
Anak saya itu nggak ada satu pun yang berani ninggalin
shalat. Anak saya, jangankan ninggalin, terlambat saja
saya pukul langsung.”
Wartawan : “Keras sekali Anda mendidik anak?”
A. Rafiq : “Ooh saya keras soal shalat. Tapi soal yang lain saya
dudukin. Saya ngomong, jangan gitu, jangan gini, lalu
memberi nasihat-nasihat. Tapi kalau soal shalat, lagsung
saya pukul. Langsung itu. Saya nggak ada ampun kalau
soal shalat.”
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 101
Wartawan : “Efeknya bagaimana ke anak-anak?”
A. Rafiq : Ooh luar biasa. Di mana saja mereka mesti shalat. dampaknya
pun luar biasa kalau mau berpegang pada agama,
nomor satu shalat. Boleh dibuktiin.
(Sumber: Berita Kota Minggu, 27 April 2008)
Drama
Bapak
Karya: B. Selano
Bapak : “Dia putra sulungku. Si anak hilang telah kembali ulang.
Dan sebuah usul diajukan segera mengungsi ke daerah
penduduk yang serta aman tenteram. Hem ya.. ya, usulnya
dapat kumengerti. Karena ia sudah terbiasa bertahuntahun
hidup di sana. Dalam sangkar. Jauh dari debu
prahara. Bertahun-tahun mata hatinya digelapbutakan
oleh nina bobok, lelabuai oleh si penjajah. Bertahun-tahun
semangatnya dijinakkan oleh suap roti keju. Celaka. Oo,
betapa celakanya.”
Si bungsu senyum memandang.
Bungsu : “Ah, Bapak rupanya lagi ngomong seorang diri.”
Bapak : “Ya, Anakku, terkadang orang lebih suka ngomong sendiri.
Tapi bukankah tadi engkau bersama abangmu?”
Bungsu : “Ya, sehari kami tamasya mengitari seluruh penjuru kota.
Sayang sekali kami tidak berhasil menjumpai ma.....”
Bapak : “Tunanganmu?”
Bungsu : “Ah, dia selalu sibuk dengan urusan kemiliteran melulu.
Bahkan, ketika kami mendatangi asramanya, ia tidak ada.
Kata mereka, ia sedang rapat dinas. He heh, seolah seluruh
hidupnya tersita untuk urusan-urusan militer saja.”
Bapak : “Kita sedang dalam keadaan darurat perang, Nak. Dan
dalam keadaan ini bagi seorang prajurit, kepentingan negara
ada di atas segalanya. Bukan saja seluruh waktunya, bahkan
jiwa raganya. Tapi, eh, mana abangmu sekarang?”
102 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Bungsu : “Oo, rupanya dia begitu rindu kepada bumi kelahirannya.
Seluruh penjuru kota dipotreti semua. Tapi, kurasa abang
akan segera tiba dan sudahkah Bapak menjawab usul yang
diajukannya itu?”
Bapak : “Itulah, itulah yang hendak kuputuskan sekarang ini,
Nak.”
Bungsu : “Nah, itu dia!”
Si sulung datang dengan mencangklong pesawat potret mengenakan
kata mata hitam. Terus duduk melepas kaca mata dan
meletakkan pesawat potret di meja.”
Sulung : “Huhuh, kota tercintaku ini rupanya sudah berubah wajah
dipenuhi baju seragam menyandang senapan. Dipagari
lingkaran kawat berduri dan wajahnya kini menjadi garang
berhiaskan laras-laras mesin. Tapi, di atas segalanya, kota
tercintaku ini masih tetap memperlihatkan kejelitaannya.”
Bapak : “Begitulah, Nak, suasana kota yang sedang dikecam
keadaan darurat perang.”
Sulung : “Ya, pertanda akan hilang keamanan, berganti huru-hara
keonaran. Dan mumpung masih keburu waktu, bagaimana
dengan putusan Bapak atas usulku itu?”
Bapak : “Menyesal sekali, Nak...”
Sulung : “Bapak menjawab dengan penolakan, bukan?”
Bapak : “Ya.”
Bungsu : “Jawaban Bapak sangat bijaksana.”
Sulung : “Bijaksana? Ya, kaubenar, manisku. Setidak-tidaknya
demikianlah anggapanmu karena bukankah secara
kebetulan tunanganmu adalah seorang perwira TNI di sini.
Tapi maaf, bukan maksudku menyindirmu, adik sayang.”
Bungsu : “Ah, tidak mengapa. Kauhanya sedang keletihan. Mengasohlah
dulu, ya, Abang. Mengasolah, kaubegitu capek
tampaknya. Bapak, biar aku pergi belanja dulu untuk
hidangan makan siang nanti.”
Sibungsu pergi. Si sulung mengantar dengan senyum.
Bapak : “Nak, pertimbangan bukanlah karena masa depan adikmu
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 103
seorang. Juga bukan karena masa depan sisa usiaku.”
Sulung : “Hem. Lalu? Karena rumah dan tanah pusaka ini barangkali,
ya Bapak.
Bapak : “Sesungguhnyalah, Nak. Lebih dari itu.”
Sulung : “Oo, ya? Apa itu ya, Bapak?”
Bapak : “Kemerdekaan.”
Sulung : “Kemerdekaan? Kemerdekaan siapa?”
Bapak : “Bangsa dan bumi pusaka ini.”
Si Sulung tertawa.
Sulung : “Bapak yang baik. Bertahun sudah aku di daerah pendudukan
sana bersama beribu bangsa awak tercinta. Dan
aku seperti juga mereka, tidak pernah merasa menjadi
budak belian ataupun tawanan perang. Ketahuilah, Bapak,
di sana hidup merdeka.”
Bapak : “Bebaskah kamu menuntut kemerdekaan?”
Sulung : “Hoho, apa mesti dituntut. Kami di sana manusia-manusia
merdeka.”
Bapak : “Bagaimana kemerdekaan menurut kau, Nak?”
Sulung : “Hem. Di sana kami punya wali negara, bangsa awak. Di
sana, segala lapangan kerja terbuka lebar-lebar bagi bangsa
awak. Di sana, bagian terbesar tentara polisi, alat negara
bangsa awak. Di atas segalanya, kami di sana hidup dalam
damai. Rukun berdampingan antara si putih dan bangsa
awak...”
Bapak : “Dan di atas segalanya pula, di sana si Putih menjadi
dipertuan. Dan sebuah bendera asing jadi lambang
kedaulatan, lambang kuasa, penjajahan. Dapatkah itu kauartikan
suatu kemerdekaan?”
Sulung : “Baik, baik. Tapi ya, Pak, kita bukan politisi.”
Bapak : “Nak, setiap patriot pada hakikatnya adalah seorang politisi
juga. Kendati tidak harus berarti menjadi seorang diplomat,
seorang negarawan. Dan justru, karena kesadaran dan
pengertian politiknya itulah seorang patriot akan senantiasa
membangkang terhadap tiap politik penjajahan.
Betapapun
manis bentuk lahirnya. Renungkanlah itu,
Nak. Dan marilah kuambil contoh masa lalu. Bukankah
dulu semasa kita masih hidup, keluarga dalam suasana
aman tenteram dan masa pensiun yang enak, sudah
dengan sendirinya berarti hidup dalam kemerdekaan?
Tidak Anakku! Kemerdekaan tidak ditentukan oleh semua
itu. Kemerdekaan adalah soal harga diri kebangsaan, soal
kehormatan kebangsaan. Ia ditentukan oleh kenyataan,
apakah suatu bangsa menjadi yang dipertuan mutlak
atas bumi pusakanya sendiri atau tidak. Ya, anakku,
renungkanlah kebenaran ucapan ini. Renungkanlah ......”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar